facebook

Blogroll

Perahu Kayu Yang Digunakan Firaun Ditemukan Oleh Arkeolog Perancis



Arkeolog Perancis telah menemukan perahu kayu berumur 5.000 tahun di sebuah ekspedisi di Mesir.
Penemuan signifikan dibuat di Abu Rawash, barat Kairo, kementerian barang antik di Mesir mengatakan,
Muhammad Ibrahim, berkata: "Ini kembali ke era Firaun Den, salah satu raja Dinasti Pertama '.

Penemuan itu dilakukan di Abu Rawash, barat Kairo

Perahu dengan panjang 6 meter dan 1.5 meter lebar fir'aun 'dalam kondisi baik, "tambahnya.

Menurut Timur Tengah Online, lembaran kayu perahu diangkut ke Museum Nasional yang direncanakan Peradaban Egyptiamn apakah mereka akan dikembalikan.
Para penemu Kelompok arkeolog Perancis yang bekerja untuk Institut Perancis Arkeologi Oriental (IFAO).
Kelompok ini pertama kali mulai bekerja penggalian di Abu Rawash di awal 1900-an.


Sebuah arkeolog terlihat bekerja pada kerangka perahu kayu yang baru ditemukan.

Pada tahun 1954 seorang arkeolog Mesir menemukan apa mungkin 43 meter kapal surya Khufu Firaun, terbuat dari cedar, dalam piramida Giza.
4.500 tahun kapal utuh yang dipamerkan di dekat piramida.
Ini adalah salah satu, kapal tertua terbesar dan terbaik diawetkan dari jaman dahulu dan telah diidentifikasi sebagai kapal utuh tertua di dunia.

Bendera Merah Putih Pertama Terbuat dari Kain Tenda Warung Soto!




Untuk pertama kalinya, bendera merah putih berkibar sebagai bendera kebangsaan Indonesia, pada 17 Agutus 1945 di pekarangan rumah Soekarno di Jl Pegangsaan Timur no 56, Jakarta. Namun sejarah asal mula sang saka cukup unik.

Sebagai istri tokoh pergerakan nasional paling populer ketika itu, Ny Fatmawati membantu menjahitkan bendera merah putih yang idenya diambil dari panji kebesaran Majapahit. Ny Fatmawati tidak membuat bendera merah putih sekali jadi. Sebelum 16 Agustus 1945, ia sudah menyelesaikan sebuah bendera merah putih.

Namun ketika diperlihatkan ke beberapa orang, bendera tersebut dinilai terlalu kecil. Panjang bendera itu hanya sekitar 50 cm. Bendera merah putih yang baru dan lebih besar harus segera dibuat. Malam itu juga, usai sampai di rumah, Ny Fatmawati membuka lemari pakaiannya. Ia menemukan selembar kain putih bersih bahan seprai. Namun ia tak punya kain merah sama sekali.

Dan beruntung ketika itu, ada seorang pemuda bernama Lukas Kastaryo (Di kemudian hari masuk militer dengan pangkat terakhir brigjen) yang berada di kediaman Soekarno. Hingga akhirnya seperti dituturkan Lukas Kastaryo pada majalah Intisari edisi Agustus 1991, ia lantas berkeliling dimana akhirnya ia menemukan kain merah yang tengah dipakai sebagai tenda sebuah warung soto. Ditebusnya kemudian dengan harga 500 sen (harga yang cukup mahal kala itu), dan menyerahkannya ke ibu Fatmawati.

Ny Fatmawati akhirnya menyelesaikan bendera merah putih yang baru, malam itu juga. Ukurannya 276 x 200 cm. Bendera baru ini akhirnya dikibarkan tepat 17 Agustus 1945, dan menjadi bendera pusaka negara di tahun-tahun sesudahnya.

Karena usia tuanya, sang Saka terakhir kali berkibar pada tahun 1969 untuk kemudian diistirahatkan di Museum Nasional. Untuk selanjutnya, pemerintah membuat bendera duplikat dengan ukuran 300 x 200 cm.

Dinasti Ming, Membangun Khilafah Islam di Cina




Kagum dengan Christopher Colombus yang berhasil menemukan benua Amerika pada tahun 1492? AtauVasco da Gama yang berlhasil melakukan pelayaran dari Portugis ke India pada tahun 1497? Saya juga kagum dengan mereka, tapi lebih kagum lagi dengan tokoh yang satu ini: Laksamana Cheng Ho (Zheng He).

Selama hidupnya, Cheng Ho melakukan petualangan antar benua selama 7 kali berturut-turut dalam kurun waktu 28 tahun (1405-1433). Tak kurang dari 30 negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika pernah disinggahinya. Wah... hebat sekali. Pelayarannya bahkan lebih awal 87 tahun dibandingkan Columbus.

Laksamana Cheng Ho hidup pada masa Dinasti Ming di China. Dinasti Ming adalah masa kekuasaan Islam di China. Ternyata Islam pernah berkuasa di China ya? Makanya pada postingan kali ini saya tertarik untuk menulis tentang Dinasti Ming di Cina, lain kali kita cerita tentang laksamana Cheng Ho ya...

Dinasti Ming muncul setelah masa kekuasaan Dinasti Yuan (Mongol), dimana pada akhir kekuasaannya Dinasti Yuan sedang digegoroti oleh krisis moneter berkepanjangan. Pengelolaan uang kertas yang sembarangan membuat nilai mata uang itu turun. Kepercayaan mata uang kertas yang diberi nama yuan (sesuai dengan nama dinasti yang berkuasa) pun hilang. Selain itu Kaisar Mongol juga harus membiayai pembangunan kanal dari utara ke selatan, menghubungkan Sungai Huang Ho dan Yang Tse Kiang. Keadaan ekonomipun dengan cepat berubah menjadi kacau. Kesejahteraan rakyat terpuruk sehingga pemberontakan rakyatpun tidak bisa dibendung. Kekuatan pemberontak terhimpun dari kalangan pekerja yang membangun kanal. Mereka dipimpin oleh seorang pemuda Muslim bernama Chu Yuan Chang.

Chu adalah menantu dari seorang jenderal muslim bernama Kok Tze Hin. Panglima Kok Tze Hin menyerahkan pasukan yang berada di bawah perintahnya kepada Chu Yuan Chang. Pasukan ini berasal dari wilayah sekitar Yang Tse Kiang. Kemudian para pemuda Han pun ikut bergabung.

Dengan strategi yang disusun oleh Panglima Chu Yuan Chang dan bantuan yang diberikan oleh isterinya, Putri Peony yang muslimah, akhirnya mereka berhasil merebut kota Nanking yang berada di daerah selatan sungai Yang Tze Kiang. Pasukan rakyat saat itu juga berhasil menyerbu ke utara dan berhasil merebut kota Peking, ibukota Khanbalik.

Chu Yuan Chang akhirnya mengumumkan pembentukan pemerintahan Dinasti Ming. Chu mengambil nama Ming dengan pertimbagan dia ingin nama dinastinya bermakna sama dengan gelar Madinah. Ming berarti Al Munawarah yang berarti gilang gemilang. Panglima Chu Yuan Chang muncul sebagai kaisar pertama dari Dinasti Ming (1368-1644 M). Dia dipanggil dengan Kaisar Hung Wu, tetapi sejarah lebih mengenalnya sebagai Kaisar Chu Yuan Chang dan isterinya dipanggil Ratu Ma (Ratu Muhammad). (dari berbagai sumber)